MADIUN – Senin malam Selasa Pahing menjadi saksi bisu berkumpulnya ribuan langkah santri dan pejuang aswaja di Gedung NU Center, Munggut, Wungu. Di bawah langit 1 Sya’ban 1447 H, ratusan warga Nahdliyin tumpah ruah merayakan Harlah 100 Tahun Nahdlatul Ulama. Bukan sekadar seremoni, momentum ini menjadi titik balik refleksi satu abad pengabdian dalam tema besar: "Mengawal Indonesia Merdeka, Menuju Peradaban Mulia."
Lautan Manusia dan Ketertiban Banser
Sejak pukul 19.00 WIB, arus kendaraan sudah mulai memadati jalur menuju NU Center. Halaman gedung yang luas tak lagi nampak aspalnya, tertutup rapat oleh barisan sepeda motor dan mobil jamaah yang datang berbondong-bondong dari seluruh penjuru kecamatan. Di tengah keriuhan itu, tampak kesigapan Satsus Balantas Banser Kabupaten Madiun yang bekerja ekstra keras. Dengan peluit dan gerakan tangan yang tegas namun santun, mereka mengatur puluhan kendaraan hingga berjajar rapi, memastikan akses masuk tetap lancar bagi para kiai dan tokoh masyarakat.
Gedung NU Center malam itu berubah menjadi samudra putih. Seluruh tingkatan kepengurusan, mulai dari jajaran PCNU, MWC, Lembaga hingga Banom seperti Muslimat, Ansor, Fatayat, IKA PMII Madiun Raya, IPNU, dan IPPNU hadir lengkap dengan rombongan masing-masing.
Pesan PWNU: Antara Kemuliaan Khidmah dan Kehinaan Materi
Dalam suasana yang penuh kekhidmatan setelah lantunan Istighotsah dan Tahlil yang dipimpin oleh Dr. KH. Musthofa, MM, panggung utama menjadi pusat perhatian saat KH. Mustaqim Basyari menyampaikan Mau’idloh Hasanah.
Membawa pesan kuat dari garis perjuangan PWNU, beliau menekankan pentingnya keikhlasan dalam berkhidmah. Beliau mengingatkan bahwa berjuang menegakkan agama Allah melalui NU akan selalu berakhir dengan kemuliaan jika didasari ketulusan. Namun, peringatan keras beliau sampaikan bagi siapa saja yang menjadikan organisasi sebagai batu loncatan materi.
"Jika ambisi didasari oleh niat materi, maka yang didapat hanyalah kehinaan," tegas KH. Mustaqim Basyari.
Beliau kemudian menceritakan sebuah kisah alegoris—dongeng Badrus Solihin. Diceritakan, Badrus Solihin pada awalnya mampu mengalahkan setan dengan kekuatan imannya. Namun, dalam perjalanan selanjutnya, ia justru tersungkur dan kalah telak oleh setan karena tergoda oleh iming-iming materi dan janji duniawi yang tak kunjung terwujud. Kisah ini menjadi peringatan bagi seluruh kader NU agar tetap tegak lurus pada niat awal: Li I'laai Kalimatillah.
Sinergi Pemerintah dan Kemandirian Jamaah
Kehadiran Pemerintah Kabupaten Madiun yang diwakili oleh Kabag Kesra semakin memperkuat sinergi antara ulama dan umaro. Dalam sambutannya, pihak Pemkab mengapresiasi peran NU yang selama satu abad telah menjadi pilar stabilitas dan moralitas di Kabupaten Madiun.
Namun, yang paling menyentuh dari acara ini adalah potret kemandirian jamaah. Tidak ada sekat antara pengurus besar dan kader akar rumput. Semangat Poro Mulyo (gotong royong) terlihat jelas saat sesi Makan di Nampan Bareng.
Seluruh level kepengurusan MWC dan Banom melakukan iuran swadaya untuk menyediakan nasi nampan. Makan satu nampan ini bukan sekadar urusan perut, melainkan simbolisasi kerukunan, kesetaraan, dan persaudaraan tanpa batas (Ukhuwah Nahdliyyah). Ribuan orang duduk bersila, jemari mereka bertemu di atas nampan yang sama, menggambarkan bahwa di NU, semua adalah satu keluarga besar.
Penutup yang Syahdu
Acara ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Kyai H. Sodik. Di bawah temaram lampu gedung dan sisa-sisa aroma nasi hangat, doa-doa dilangitkan untuk keselamatan bangsa dan kejayaan NU di abad kedua.
Seiring berakhirnya acara, para jamaah membubarkan diri dengan tertib. Mereka pulang tidak hanya membawa perut yang kenyang, tetapi membawa "bekal" semangat keikhlasan yang baru untuk terus mengawal Indonesia menuju peradaban yang mulia.