MADIUN– Di bawah naungan langit Kecamatan Wungu, suasana Pondok Pesantren (PP) Miftachul Ulum Nglanduk berubah menjadi samudera nostalgia, Minggu (19/4/2026). Sejak pukul 08.00 WIB, ratusan kader Ansor dan Banser Kabupaten Madiun lintas generasi berkumpul untuk menjemput kembali ingatan dan menyambung "sanad" persahabatan yang telah terbentang sejak era 80-an hingga hari ini.
Kegiatan ini lahir dari sebuah kerinduan yang mendalam—kerinduan akan masa-masa berjuang dengan gagah mengenakan seragam Ansor-Banser di masanya masing-masing. Di Nglanduk, proses regenerasi dan transisi antar anggota kader terlihat begitu hidup, menampilkan wajah khidmat yang menggembirakan dan membahagiakan siapa pun yang memandangnya. Membuang sekat-sekat musiman yang kerapkali menghambat perjumpaan para sahabat.
Alur Cerita dan Kesaksian Para Nakhoda
Acara dipandu dengan begitu apik dan penuh nuansa kekeluargaan oleh Mbah Syamsuddin. Sebagai pembawa acara, ia mampu menghidupkan suasana dengan menyelipkan banyolan khas santri yang membuat gelak tawa pecah di tengah cuaca pagi yang hangat.
Suasana kian mendalam saat A. Khotamil Anam (Ketua PC 2017-2025) mengulik keunikan evolusi seragam dari masa ke masa. "Meski hari ini para sahabat telah bergerak di berbagai ruang profesional, namun ketika seragam ini melekat, hati kita kembali tertaut dalam satu niat: nderek khidmah," tutur Gus Anam. Ia menekankan kerinduan untuk tetap didaku sebagai santri Hadratussyeikh Hasyim Asy’ari hingga akhir hayat.
Selain Gus Anam, hadir pula Saiful Bahri Andy (1999-2004) yang mengenang loyalitas pada kiai sebagai harga mati di era reformasi. Sementara itu, sahabat Tamyiz, Hubaib Suroya, Minarso, dan Rasidin mengirimkan salam takzim dari jauh karena adanya agenda mendesak.
Estafet Masa Depan
Ketua PC GP Ansor Kabupaten Madiun saat ini, Ali Makhrus, menitipkan pesan khusus kepada para sesepuh. "Kami memohon kepada para senior agar terus menyambungkan putra-putrinya ke rumah besar ini. Mari kita ajak anak-anak kita untuk berproses di Ansor-Banser atau banom NU lainnya ke depan, agar sanad pengabdian ini tidak berhenti di kita saja."
Momentum ini juga menjadi ajang penting untuk menyinkronkan kembali sejarah transisi kepemimpinan Ansor Madiun:
| Periode | Nama Ketua PC GP Ansor Kabupaten Madiun | Catatan Regenerasi |
| 1965 – 1990 | Masduki | Proses konfirmasi data & saksi |
| 1990 – 1995 | Muktar | Proses konfirmasi data & saksi |
| 1995 – 2000 | Tamyiz | Peletak dasar pergerakan era 90-an |
| 1999 – 2004 | Saiful Bahri Andy | Nakhoda di era transisi reformasi |
| 2004 – 2009 | Hubaib Suroya | Penguatan basis pesantren & intelektual |
| 2009 – 2013 | Minarso | Konsolidasi kaderisasi akar rumput |
| 2013 – 2017 | Rosidin | Perluasan jangkauan sosial organisasi |
| 2017 – 2025 | A. Khotamil Anam | Transformasi menuju kemandirian |
| 2025 – 2029 | Ali Makhrus | Menjaga sanad, menjemput masa depan |
Langit Nglanduk yang Menjadi Saksi
Puncak kekhidmatan acara ditutup dengan pembacaan doa yang dipimpin oleh Kyai Zainal Abidin. Di bawah bimbingan doa beliau, suasana pesantren seketika senyap, menyisakan isak haru para kader yang mengamini harapan agar organisasi ini tetap tegak berdiri menjaga NKRI dan Ulama.
Hingga kegiatan berakhir, makan bersama di atas talam menjadi penutup sempurna—sebuah simbol kesetaraan yang menegaskan bahwa di hadapan organisasi dan kiai, semua adalah saudara sealmamater. Pertemuan di Nglanduk membuktikan bahwa jabatan bisa silih berganti, namun **persahabatan adalah sanad yang abadi**. Di tempat ini, sejarah dipeluk erat dengan wajah yang penuh suka cita untuk terus mengabdi bagi Bumi Kampung Pesilat.